Skip to content

Anak bermasturbasi?

13 December 2008

Masturbation is the self stimulation of the genitals for pleasure or self comfort. During masturbation, a child often appears dazed, flushed, and preoccupied. The frequency of this behavior may range from once per week to several times per day. It occurs more commonly when a child is sleepy, bored, watching T.V., or under stress.
(
Robert Steele, MD in Masturbation: Is this normal for preschoolers? http://parenting.ivillage.com)

Ulasan

Menurut Freud, seksualitas sudah berkembang bahkan sejak masa anak-anak. Freud, dalam Bertens (1983), menjabarkan perkembangan psikoseksual pada masa anak- anak menjadi empat fase, oral, anal, falis, dan laten

Penjabaran Freud tersebut banyak mengundang kontoversi, selain mengenai seksualitasnya juga mengenai konsekuensi atas ”hutang” yang terjadi jika fase-fase tersebut tidak terlewati dengan baik. Saya tidak akan membahas pertentangan tersebut di sini. Pada artikel ini saya akan lebih banyak membahas apa dan bagaimana cara mengatasi masing-masing fase tersebut.

Fase oral. Fase ini berlangsung saat bayi baru saja lahir, sampai usia 1 – 2 tahun. Bayi merasakan adanya kenikmatan saat menyusui dan atau mengisap. Anak pada fase ini juga mencoba mencari tahu melalui mulutnya. Segala sesuatu yang dapat diraihnya akan diamati dan jika menarik perhatiannya maka anak akan memasukkannya ke dalam mulut, dikulum-kulum, digigit, diputar-putar.

Pada fase ini, biasanya orang tua menegur, mengambil, bahkan terkadang merebut benda yang akan dikulum oleh anak. Akibatnya? Jika tidak menangis, anak akan beralih mengambil benda yang lain.

Sebenarnya, jika orang tua sudah memastikan kebersihan dan keamanan benda-benda yang terdapat di sekitar anak, orang tua tidak perlu panik ketika anak memasukkan benda ke dalam mulutnya. Jelaskan saja pada anak karakteristik benda yang diambilnya. ”Itu keras ya, soalnya kura-kuranya dari plastik.” ”Waduh, kakinya kura-kura sakit deh digigit sama adek” ”Waduh, kura-kuranya bukan makanan jadi tidak ada rasanya”

Walaupun terkesan tidak mengerti, sebenarnya anak sedang mengumpulkan seluruh pengetahuan di dalam kepalanya. Jadi, terus saja berbicara sembari memastikan bahwa benda tersebut tidak akan tertelan atau melukai anak.

Fase berikutnya …

Fasel anal. Fase ini berlangsung setelah fase oral berakhir, yaitu antara 1-2 tahun dan akan berlangsung sampai usia 4 tahun. Anak akan merasakan kenikmatan dari anusnya.

Selain pola makan yang tidak sehat, seringkali anak pada rentang usia ini memang sengaja menahan agar tidak BAB (buang air besar). Solusinya sederhana saja, pastikan bahwa anak memiliki pola makan yang sehat dan mengajaknya berdialog mengenai kebiasaannya untuk menahan BAB.

Selanjutnya …

Fase falus. Fase ini berlangsung pada rentang usia 4 – 6 tahun. Anak akan merasakan kenikmatan dari alat kelaminnya.

Berbeda dengan fase-fase sebelumnya, fase falis biasanya membuat orang tua benar-benar panik ketika mendapati anaknya sedang ber”masturbasi”. Jika kenikmatan oral secara otomatis diperoleh anak pada saat menyusu dan kenikmatan anus diperoleh secara otomatis saat anak BAB, maka kenikmatan genital diperoleh saat anak secara sengaja ”memainkan” alat kelaminnya.

Awal dari permainan pada fase falis dapat berawal dari ketidaksengajaan anak saat memainkan penisnya ketika pipis atau menggesek vaginanya ketika membasuh setelah pipis. Pernah melihat anak laki-laki yang sibuk mengarahkan air kencingnya seperti sedang menembak? Atau pernah melihat anak perempuan yang berlama-lama membasuh vaginanya setelah pipis?

Selain ketidaksengajaan, ada juga yang memang secara sengaja memainkan alat kelaminnya karena menirukan. Hal ini biasanya terjadi pada anak yang masih tidur bersama orang tuanya.

Jika awal dari permainan tersebut didapat dari ketidaksengajaan, anak cukup dialihkan perhatiannya dari permainannya tersebut. Bisa dengan memberikan permainan, aktivitas, atau mengajaknya bersosialisasi dengan teman-temannya. Berdialog dengan anak mengenai perilakunya tersebut juga sangat membantu anak untuk tidak melanjutkannya menjadi kebiasaan tetapi juga tidak membenci kenikmatan yang diperoleh dari alat kelaminnya.

Namun, jika awal permainan diperoleh secara sengaja, karena melihat orang tuanya, maka selain berdialog dengan si anak mengenai perilaku orang tua dan perilaku masturbasi anak, orang tua wajib meminimalisir kemungkinan anak untuk melihat yang kedua kalinya.

Penjelasan yang bijak sangat diperlukan agar anak dapat memahaminya.

Tidak berhenti hanya pada kalimat ”Papa sedang sayang sama mama” atau ”Papa mama sedang buat adek bayi” tetapi sampai kesiapan si anak untuk menanggung konsekuensi dari perilaku seksualnya. ”Waduh, kalau adek juga buat bayi, nanti adek kuat nggak ya? Mama sudah besar, perutnya mama cukup buat adek bayi. Mama juga sudah besar jadi bisa cari uang buat beli baju buat adek bayi supaya nggak kedinginan. Adek nanti bagaimana cara cari uangnya ya? Mama juga ada papa yang bisa gantian menggendong adek bayi. Kalau adek sama siapa?”

Selain itu, ajak anak untuk berdialog mengenai konsekuensi dari perilaku masturbasi, mulai dari rasa lelah, rasa sakit jika sampai lecet, rasa malu jika dilihat orang lain, rasa sepi karena tidak lagi punya banyak teman.

Berdialog, bukan menghukum. Menghukum akan mengakibatkan anak membenci. Berdialog akan membuat anak memahami.(Yanti D.P.)

One Comment leave one →
  1. 26 March 2010 8:21 pm

    sangat mencerahkan,

    salam saya buat mbak Yanti 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: