Skip to content

Upaya Pengembangan Kreatifitas dan Kemampuan Otak Sejak Usia Dini

30 September 2009

Oleh : Bambang Budi Setiawan/Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI)

Anak-anak pada usia dini perlu mendapatkan perhatian sungguh dari semua pihak. Anak pada usia dini sebagai usia dimana anak belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti SD dan biasanya mereka tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam bentuk berbagai lembaga pendidikan pra sekolah seperti kelompok bermain, taman kanak-kanak dan taman penitipan anak.

Ciri anak usia dini mengacu pada teori Piaget dapat dikatakan sebagai usia yang belum dapat dituntut untuk berpikir secara logis (tahapan operasional) yang ditandai dengan pemikiran seperti :

  • Berpikir secara konkrit, dimana kemampuan representasi simbolik yang memungkinkan seseorang untuk memikirkan hal abstrak (seperti cinta atau keadilan) belum dapat dipahaminya.
  • Realisme, yaitu kecenderungan yang kuat untuk menanggapi segala sesuatu sebagai hal yang riil atau nyata
  • Egosentris, yaitu melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mudah menerima penjelasan dari sisi lain
  • Kecenderungan untuk berpikir secara sederhana dan tidak mudah menerima sesuatu yang majemuk
  • Animisme yaitu kecenderungan untuk berpikir bahwa semua obyek di lingkungannya memiliki kualitas kemanusiaan sebagaimana yang dimiliki anak
  • Sentrasi yaitu kecenderungan untuk mengkonsentrasikan diri hanya pada satu aspek dari suatu situasi
  • Anak usia dini dapat dikatakan memiliki imajinasi yang amat kaya dan imajinasi ini sering dikatakan sebagai awal munculnya bibit kreatifitas pada mereka

Pada usia dini anak masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan dalam segi termasuk otaknya. Otak merupakan pusat dari intelegensi pada anak. Koestler telah mengemukakan suatu teori tentang istilah belahan otak kiri dan kanan yang tugas dan fungsi, ciri dan responnya berbeda terhadap pengalaman belajar, meskipun tidak dalam arti mutlak. Respon kedua belahan otak ini tidak sama, dan menuntut pada pengalaman belajarnya.

Antara Otak Kanan dan Otak Kiri

Seorang anak secara genetis telah lahir dengan suatu organisme yang disebut intelegensi yang bersumber dari otaknya. Kalau struktur otak telah ditentukan secara biologis, berfungsinya otak tersebut sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya.

Otak tersebut terdiri dari dua belahan otak (kiri dan kanan) yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Kedua belahan otak tersebut berfungsi tugas dan responnya berbeda dan seharusnya tumbuh dalam keseimbangan.

Pada anak-anak usia dini, maka program yang dilakukan seharusnya adalah upaya memaksimalkan pengembangan otak kanan anak. Hal ini disebabkan bahwa belahan otak kanan lebih banyak berfungsi untuk mengutamakan respon yang terkait dengan persepsi holistik, imajinatif, kreatif dan bisosiatif. Hal ini berbeda dengan otak kiri yang lebih bertugas untuk menangkap persepsi kognitif serta berpikir secara linier, logis, teratur dan lateral. Biasanya fungsi otak kiri lebih pada bidang pengajaran yang verbalistis dengan menekankan pada segi hapalan dan persepsi kognitif saja.

Untuk itulah guna mengefektifkan otak kanan anak sejak usia dini maka diperlukan “experiental learning” (belajar berdasarkan pengalaman langsung) untuk anak-anak usia dini guna lebih mengefektifkan fungsi divergennya (dimana anak-anak dibiasakan untuk selalu memberikan ide dan alternatif yang tidak homogen). Hal ini akan berdampak pada anak yang kreatif, suka berpikir beda dan penuh ide.

Ciri-ciri Anak Yang Otak Kanannya Mempunyai Kemampuan Lebih

Ada beberapa ciri yang bisa dilihat pada anak usia dini yang dipercaya sebagai tanda-tanda positif untuk anak yang kreatif.

  • Kemampuan motorik yang lebih awal seperti kemampuan untuk berjalan, memanjat, memakai baju dan sepatu ataupun menyuapi diri sendiri
  • Anak mampu bicara dengan kalimat yang lengkap, kosa kata yang banyak, daya ingat yang baik dan menunjukkan keinginan yang kuat untuk belajar dan hasrat yang besar terhadap buku ataupun gambar-gambar
  • Membandingkan dengan anak yang lainnya. Biasanya akan terlihat dari kecenderungannya untuk menyukai permainan yang merangsang daya khayalnya
  • Adanya daya ingat yang baik, kemampuan coba-salah dan mempu menyenangi dirinya (bersibuk diri) dalam waktu yang cukup lama

Bagaimana kita dapat mengoptimalkan kemampuan otak kanan anak kita sejak usia dini. Ada beberapa motede yang dapat dipakaiantara lain dengan bermain musik, bermain, menggambar, dan lain-lain.

Upaya Meningkatkan Kemampuan Otak Anak

Beberapa metode telah dikembangkan oleh para ahli dalam upaya meningkatkan kemampuan otak kanan sejak anak usia dini.

Bermain Musik
Salah satunya adalah metode bermain musik oleh Carl Orff (1895) seorang komponis dan pendidik dari Jerman. Bermula dari pengalaman mengelola sekolah musik dan senam, ia mengadakan eksperimen untuk mengaitkan antara musik dan gerak. Akhirnya ia berkesimpulan bahwa musik pendidikan tidak dapat diberikan pada anak usia dini secara tertutup tapi melalui integrasi antara musik dan gerak. Metode Orff berprinsip bahwa antara bunyi, instrumen, ucapan, kata, kalimat bersajak, cerita dan gerakan tubuh ada dalam satu keutuhan untuk mencapai kesatuan yang harmonis. Orff instrumen sebagai alat-alat musik adalah unik karena merupakan alat musik pukul yang bernada maupun tak bernada. Berdasarkan penelitian ternyata anak di usia dini lebih menyukai Orff instrumen karena alat musik tersebut bagi mereka merupakan suatu bentuk permainan yang memungkinkan mereka untuk bereksplorasi sejauh mungkin terhadap bunyi. Di Indonesia dapat ditemukan seperti angklung, kulintang, calung, kotekan, tambur atau gong. Anak juga dapat bereksplorasi musik dengan botol ditiup, dipukul, sapu, sikat, kentongan dan kertas digetarkan.

Kreativitas Anak Melalui Gambar

Rhoda Kellog seorang peneliti dan pengarang buku “The Psychology of Children’s Art” dari Amerika Serikat yang menghimpun tidak kurang dari 1 juta gambar anak dari berbagai usia, tingkatan sosial dan kebangsaan di 31 negara dari 5 benua dalam jangka 20 tahun telah menghasilkan beberapa hasil analisanya.

Diungkapkannya bahwa setiap anak mulai awal pertumbuhannya (pada usia dini) biasanya memulai dengan periode coreng moreng (sobbling period) sampai akhirnya anak-anak mulai mengembangkan daya ciptanya. Bagi seorang anak menggambar merupakan bentuk permainan yang sebenarnya akan mengasah kemampuan otak kanannya. Ucapan Picasso mungkin harus menjadi renungan kita, “Orang dewasa sebaiknya jangan mengajar anak-anak untuk menggambar, sebaiknya orang dewasalah yang harus belajar dari anak-anak”.

Alat Permainan Edukatif

Selain musik, upaya pengembangan otak kanan juga dapat dilakukan dengan bermain dengan Alat Permainan Edukatif (APE). Sebetulnya apa itu fungsi alat bermain bagi anak usia dini ?
Banyak mainan sekarang ini yang semakin kreatif, mahal dan beraneka macam. Tentunya hal ini akan banyak membuat orang tua bingung. Banyak mainan yang dibuat oleh pabrik yang sebetulnya kurang berfaedah bagi anak-anak karena sebenarnya alat bermain hanyalah alat bantu saja bagi seorang anak dan bukan merupakan indikator mutlak untuk anak berkembang lebih baik. Jadi mahal dan murahnya alat mainan bukanlah merupakan indikator. Anak akan dapat bermain dengan manfaat yang besar apabila orang tua dapat mengetahui sisi kegunaannya mainan tersebut.

Ada mainan anak yang disebut APE atau Alat Permainan Edukatif yaitu golongan mainan yang bersifat edukatif atau dapat memenuhi syarat sebagai perangsang bagi anak untuk terjadinya proses belajar anak. Cirinya adalah:

  • Dapat merangsang anak secara aktif berpartisipasi dalam proses, tidak hanya diam secara pasif melihat saja
  • Bentuk mainan tersebut biasanya “unstrusure” sehingga dimungkinkan bagi anak untuk membentuk, merubah, mengembangkan sesuai dengan imajinasinya
  • Dibuat dengan tujuan atau pengembangan tertentu, sesuai dengan target usia anak tertentu.

Selain faktor tersebut diatas, harus dilihat usia anak kita. Untuk itu harus dipilih jenis mainan yang diperlukan bagi anak kita. Misalnya pilihlah mainan anak yang dapat mengembangkan motorik kasar bagi perkembangan kritis kemampuan berjalan, misalnya mainan yang ditarik.Salah satu kriteria mainan itu adalah dicantumkan petunjuk mainan tersebut untuk mengembangkan fungsi apa dan juga disertai rekomendasi bagi usia berapa, menginat ada bahaya yang siap mengancam anak-anak kita.

Secara teoritis kita dapat membagi aktivitas anak dalam bermain ini menjadi 4 macam yaitu :

  1. Bermain fisik, merupakan kegiatan bermain yang berkaitan dengan upaya pengembangan aspek motorik anak seperti berlari, melompat, memanjat, berayun-ayun
  2. Bermain kreatif, merupakan bentuk bermain yang erat hubungannya dengan pengembangan kreatifitas seperti menyusun balok, bermain dengan lilin atau pasir, melukis dengan jari dan sebagainya
  3. Bermain imajinatif merupakan kegiatan bermain yang menyertakan fantasi anak seperti bermain sandiwara dimana anak dapat mengembangkan imajinasi dengan peran yang berbeda-beda
  4. Bermain manipulasi, merupakan kegiatan bermain yang menggunakan alat tertentu seperti gunting, obeng, palu, lem, kertas lipat dan sebagainya untuk mengembangkan kemampuan khusus anak.

Bermain yang menyenangkan bagi anak ini akan memberikan rasa aman dan bebas secara psikologis, suatu kondisi yang amat dibutuhkan bagi upaya pengembangan kreatifitas anak. Disamping itu, bermain yang merupakan kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan guna menemukan sesuatu dengan cara baru, memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengekspresikan dorongan kreatifnya.

Perenungan

Banyak kekhawatiran dan ketidak mengertian orang tua yang kadangkala menjadi bumerang bagi orang tua dalam mendidik anak-anaknya sejak usia dini. Keinginan orang tua yang harus dilakukan oleh anak-anak, tidak jarang membuat anak-anak di usia dini sudah menjadi orang dewasa mini. Hal ini tidak lain karena orang tua yang terlalu khawatir dengan pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Sifat over protektif juga kadang sering menghambat kemampuan anak sejak dini berkembang.

Bahkan kadangkala orang tua seringka kali takut dengan IQ. Mereka sering kali bertanya apakah anak yang kemampuan otak kanannya lebih terasa IQnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain ? Pertanyaan ini sebetulnya mudah dijawab, karena menurut penelitian Terman 1 – 2 % anak yang seperti itu memiliki IQ tinggi yaitu 140. Namun orang tua sekarang juga harus ingat, bahwa tidak hanya IQ yang akan menentukan keberhasilan anak-anak kita. Kemampuan EQ (Emotional Quotient), SQ (Spiritual Quotient) dan yang paling akhir adalah ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) ternyata lebih menunjang di kemudian hari. Hal ini berarti orang juga harus tetap mendidik anak-anak sejak usia dini dengan tidak meninggalkan komunitas, lingkungan keluarga, belajar dan bermain serta meningkatkan kesadaran anak terhadap fitrah manusia sejak dini (God Spot) yang berarti anak tidak terlepas dari asas hubungan antar manusia, lingkungan dan Tuhannya.

Akhirnya kita berharap anak Indonesia masa kini adalah anak-anak yang kreatif, penuh ide, tidak terlepas dari hubungan antar manusia, lingkungan dan Tuhannya. Bila hal itu dilakukan, kiranya akan tumbuh anak-anak kreatif yang mampu memiliki berbagai visi dan wawasan dalam pengembangan pribadi yang utuh dan bermanfaat bagi dirinya di kelak kemudian hari.

Kepustakaan

  1. Danah Sohar and Ia Marshall, SQ – The Ultimate Intelligence, London 2000
  2. Kompas, 11 November 1996
  3. SC Utami Munandar, Psikologi Perkembangan Pribadi, UI Press, 2001.
  4. Conny Semiawan, Pengembangan Pogram Anak Berbakat, tidak diterbitkan
  5. Seto Mulyadi, Merangsang Kreatifitas Anak Sejak Usia Dini, Gramedia 1996
  6. BPPN, Perhatian Khusus Terhadap Peserta Didik Berbakat, Depdiknas, Position Paper, 1992

——-
Bambang Budi Setiawan/Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI)

2 Comments leave one →
  1. 12 October 2009 3:18 pm

    otak memang perlu diasah sejak dini.

  2. Armi permalink
    2 June 2010 11:50 am

    Jika otak sudah diasah sejak dini maka anak tersebut memiliki kemampuan nalar yang baik dan ia mampu mengatasi masalah yg kompleks di masa mendatang dg briliant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: