Skip to content

PENGASUHAN : Teori, Prinsip dan Aplikasinya

16 October 2010

PENGASUHAN : Teori, Prinsip dan Aplikasinya

Artikel ini akan mengupas bab 5 dan bab 6 yang berkaitan dengan teori serta penerapan pengasuhan pada anak, karangan Dwi Hastuti.

Pengasuhan adalah pengalaman, ketrampilan, kualitas dan tanggung jawab sebagai orangtua dalam mendidik dan merawat anak. Ada 2 faktor yang saling berkaitan untuk tumbuh kembang anak yaitu interaksi ibu dan anak secara timbal balik dan pemberian stimulasi, sehingga pengasuhan adalah bentuk interaksi dan pemberian stimulasi dari orang dewasa di sekitar kehidupan anak. Orangtua sebagai pengasuh utama anak di rumah mempunyai pola pengasuhan dimana orangtua mengharapkan anak untuk mandiri, matang, percaya diri, rasa ingin tahu, bersahabat dan orientasi untuk sukses. Ada 2 unsur penting dalam pengasuhan yaitu :

1.     Responsiveness yaitu tingkat responsive dari orangtua ke anak yang berupa dukungan dan kehangatan kepada anak

2.     Demandingness yaitu tuntutan dari orangtua kepada anak yang berupa aturan dan konsekuensi atas perbuatan anak.

Gaya pengasuhan adalah cara interaksi orangtua kepada anak. Pada dasarnya ada 2 tipe pengasuhan yaitu :

1. Gaya pelatihan emosi (parental emotional styles). Gaya ini dibagi 2 :

a.  Gaya pelatih emosi (coaching)

Pola pengasuhan dimana orangtua mampu membantu anak untuk menangani emosi terutama emosi negative. Orangtua tipe ini mampu menilai emosi negative anak sebagai kesempatan untuk menciptakan keakraban tanpa kehilangan kesabaran. Bentuk pengasuhan ini berhubungan dengan kepercayaan orangtua terhadap anak untuk mengatur emosi dan menyelesaikan suatu masalah sehingga orangtua bersedia meluangkan waktu saat anak sedih, marah dan takut serta mengajarkan cara mengungkapkan emosi yang dapat diterima orang lain.

b.  Gaya pengabai emosi (dismissing parenting style)

Pola pengasuhan dimana orangtua tidak punya kesadaran dan kemampuan untuk mengatasi emosi anak serta percaya bahwa emosi negative sebagai cerminan buruknya ketrampilan pengasuhan. Orangtua tipe ini menganggap bahwa anak terlalu cengeng saat anak sedih sehingga orangtua tidak menyelesaikan masalah anak dan beranggapan bahwa emosi anak akan hilang dengan sendirinya.

2. Gaya pendisiplinan

a.  Otoriter (authoritarian)

pola asuh dimana orangtua memberi  aturan yang ketat dan adanya otoritas dari orangtua untuk menetapkan aturan yang bersifat kaku dan tanpa penjelasan. Orangtua dengan tipe ini biasanya menerapkan pengawasan yang tinggi kepada anak dan mendikte segala perbuatan yang seharusnya dilakukan anak serta tidak mengharapkan anak membantah keputusan yang telah ditetapkan.

b.  Demokratis (authoritative)

pola asuh dimana orangtua memberi batasan yang tinggi namun juga member penjelasan sesuai pola pikir anak serat toleran kepada anak. Orangtua tipe ini memberikan batasan dan aturan kepada anak tetapi juga memberikan konsekuensi yang bersifat naluriah kepada anak apabila mereka melakukan kesalahan kepada anak. Selain itu orangtua tipe ini juga menjelaskan pentingnya aturan yang telah disepakati dan mengapa aturan tersebut harus dijalankan oleh anak.

c.   Membiarkan (permissive)

pola asuh dimana orangtua tipe ini memberi aturan / batasan yang longgar ke anak dan kurang memberi pengarahan / penjelasan ke anak dalam memahami masalah kehidupan. Orangtua tipe ini lebih responsive terhadap kebutuhan anak namun tidak member batasan yang tepat bagi perilaku anak sehingga anak dapat membuat aturan, jadwal dan aktifitas sendiri.

METODE DAN TEKNIK PENGASUHAN

Dalam mengasuh anak, ada beberapa metode yang harus disesuaikan dengan karakteristik anak diantaranya :

1.     Pemberian rewards / penghargaan

Pemberian rewards / penghargaan kepada anak biasanya dalam bentuk mainan, uang, makanan dll. Namun rewards bisa dalam bentuk privilages / keistimewaan yaitu hadiah yang memungkinkan anak memperoleh banyak kebebasan dan kesempatan. Bentuknya dapat berupa waktu main yang lebih banyak, membolehkan anak meminjam mainan yang disukainya dll. Saat memberikan rewards, orangtua harus memperhatikan bahwa rewards berupa sesuatu yang spontan sebagai penghargaan atas tindakan anak yang baik dan bukan untuk menyuap anak. Rewards bukan untuk mengubah perilaku anak tapi untuk menghargai hasil karya anak.

2.     Disiplin

Disiplin pada anak dapat berupa untuk menentukan kepercayaan diri anak sehingga mereka memiliki control yang ada pada dirinya. Teknik disiplin :

a.      Memberi batasan (setting limits) dan aturan (rules)

Adanya batasan dan aturan untuk menghindari masalah pada anak, selain itu juga pastikan anak untuk mengerti alasan ditetapkannya aturan tersebut.

b.      Konsekuensi

Bentuk disiplin dengan cara membiarkan anak mencoba pengalamannya sendiri, misalnya : ketika anak merusakkan mainan maka anak tidak dapat bermain lagi.

c.      Mengasingkan / menghukum anak di luar

Ketika anak kecil dihukum di dalam kamar, pastikan orangtua harus duduk bersama di dalam kamar dan biarkan mereka menangis. Setelah tenang, berikan penjelasan kepada anak mengapa mereka tidak boleh melakukan hal itu dan ajarkan anak untuk minta maaf sebelum keluar kamar.

d.      Menunjukan perasaan kecewa pada saat anak berlaku salah

Saat anak berlaku salah, tunjukan perasaan / ekspresi kecewa karena anak telah melanggar aturan yang telah ditetapkan.

e.      Menahan kebebasan anak

Ketika anak berbuat suatu kesalahan, orangtua dapat menahan kebebasan anak, misalnya waktu main yang biasanya 1 jam, dikurangi menjadi ½ jam.

3.     Time-out

Time out adalah proses bagi anak untuk menenangkan diri dan menyadari kesalahannya. Time out bukan hukuman, namun memberi  waktu dan kesempatan pada anak untuk memperoleh control atas perilakunya. Tujuan time out adalah mengajarkan anak mengontrol diri, mengakhiri perilaku keliru dan member kesempatan pada anak untuk memikirkan kembali tindakannya dan dampaknya.

4.     Role modeling

Anak belajar dari mengamati tingkah laku, perbuatan, persepsi, pemikiran, cara komunikasi dari orang dewasa yang ada di sekitarnya sehingga ubahlah perilaku dan cara komunikasi kita agar anak dapat meniru perbuatan positif dari kita.

5.     Encouragement

Adanya dorongan / semangat untuk memperoleh perilaku positif pada anak.

6.     Attention ignore

Metode ini memfokuskan pada perbuatan baik yang dilakukan oleh anak sehingga anak akan mengulangi perbuatan tersebut dan mengabaikan perilaku buruk anak sehingga ia tidak akan melakukannya lagi. Orangtua juga perlu membatasi diri sampai berapa lama ia akan mengabaikan tindakan anak untuk mengalihkan perhatian anak pada tindakan yang lebih positif.

Terimakasih, semoga bermanfaat …

One Comment leave one →
  1. 13 November 2010 3:41 pm

    assalammualaikumw wr wb
    saya dimas anompambudi
    kuliah di UNNES jurusan psikilogi semester 5.
    Luar biasah TK pelangi nusantara dengan menerapkan pendidikan holistik berbasis karakter ini, saya juga pernah berkunjung/ observasi ke TK pelangi nusantara ini, wah… luar bisah sekali dengan mengajarkan anak dengan menerapkan pendidikan holistik berbasis karakter ini. Dan saya ikut prihatin setelah saya terjun kelapangan mendampingi dan mengajar di TK di kota saya ternyata mengajar di TK seperti mengajar di SD, dan mungkin ini yang memberi dampak anak kadang tidak mau berangkat sekolah dan merasa jenuh,pusing. dengan pengajaran di TK -TK yang belum menerapkan pendidikan holistik berbasis karakter ini
    Apakah ada pelatihan mengenai pendidikan holistik berbasis karakter ini karna saya ingin sekali ikut belajar dan menerapkan pendidikan karakter ini, karna cukup prihatin saya melihatnya? mohon infonya. saya tunggu infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: