Skip to content

Membangun Kelekatan Aman (Secure Attachment) Antara Ibu Yang Berkarir dan Bayinya

17 August 2016
Bayi yang baru lahir yang menunjukkan serba tidak berdaya. Namun dibalik ketidak berdayaannya tersebut pada dirinya terdapat berbagai potensi yang siap berkembang. Berbagai potensi yang dimiliki dapat berubah menjadi kemampuan nyata bila dirinya mendapatkan stimulasi dari lingkungannya, terutama lingkungan sosial.

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi bayi. Dari lingkungan inilah bayi belajar membentuk pola hubungan dengan orang lain. Faktor yang sangat diperlukan oleh bayi dalam mengembangkan kemampuan tersebut adalah bonding atau yang yang juga dikenal dengan istilah attachment (kelekatan ) yaitu hubungan dua arah antara ibu dan anak yang prosesnya berjalan secara perlahan terutama ketika bayi sudah mulai mengenal orang-orang di sekitarnya.

Anak-anak yang memiliki kelekatan (attachment ) erat dengan orang tuanya akan berkembang menjadi remaja yang memiliki kepribadian menarik , rasa percaya diri yang tinggi, kecerdasan emosi dan ketrampilan sosial yang tinggi serta mampu menyelesaikan masalah dengan efektif (Ratna Megawangi, 2014 ). Tidak hanya itu, menurut sebuah penelitian di pensilvania Amerika Serikat, anak yang memiliki kelekatan yang kuat mampu mengatasi trauma akibat bencana alam dengan lebih cepat di bandingkan dengan anak yang tidak memiliki kelekatan yang baik pada orang tua mereka ataupun walinya.

Kelekatan yang kuat antara ibu dan anak dapat diperoleh melalui pola “pengasuhan responsif.”, dimana ibu selalu siap berada di samping bayinya sehingga mengetahui kebutuhan bayinya; kapan bayi menangis karena lapar, atau harus di gantikan popoknya, atau saat bayi menangis karena merasa tidak nyaman.

Namun sayangnya, pada saat sekarang ini banyak sekali para ibu yang memiliki kesibukan di luar rumah yang padat dengan menjadi wanita karir, baik demi eksistensi diri maupun demi menopang keuangan keluarga, sehingga mereka tidak bisa selalu berada di dekat bayinya untuk selalu responsif terhadap segala kebutuhan bayinya.

this picture is taken fron: yangonlife.com
Menjadi wanita karir memang semakin jadi dambaan kaum hawa. Hal ini terjadi karena kesadaran wanita untuk berpendidikan tinggi selalu mengalami peningkatan. Padahal, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, akan semakin tinggi pula target pekerjaan ataupun jabatan yang ingin diperoleh. Maka tidak heran jika saat ini kita melihat banyak sekali sosok perempuan yang memiliki jabatan-jabatan penting. Seperti menjadi dokter, dosen, pilot, menteri, duta besar hingga presiden sekalipun. Dari luar, orang akan melihat betapa hebatnya wanita tersebut. Sosok wanita mandiri, berkedudukan tinggi dan amat dihormati. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa dibalik kehebatan seorang perempuan di ranah publik, ia tetaplah seorang ibu yang memiliki kewajiban untuk menjadi pendidik utama bagi para putra-putrinya. Tertama bila putra-putrinya masih berusia 0-2 tahun. Karena pada usia tersebut adalah usia crusial dimana anak masih sangat membutuhkan kelekatan (attacgment) dengan figur ibunya.

Hal ini tentu menjadi sebuah dilema bagi para ibu yang telah terlanjur memiliki karir yang kuat dan kebermanfaatan yang luas di masayarakatnya. Manakah yang harus menjadi pilihan prioritasnya. Belum lagi, ketika memang pilihan berkarir di luar rumah merupakan pilihan terakhir yang harus di tempuh untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Demi menjembatani hal tersebut, 5 pola pengasuhan berikut dapat dilakukan dijadikan sebagai alternatif pilhan.

1. Sempatkan untuk memberikan ASI (meski hanya , sebelum dan setelah bunda bekerja)
taken from : cliparts.co/breastfeeding

Asi adalah makan terbaik bagi bayi. Proses pemberian ASI tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi bagi tubuh saja, namun juga memenuhi kebutuhan psikologis bayi.terutama dalam membangun kelekatan yang menjadi fondasi penting tumbuh kembang bayi selanjutnya.

Peran ASI pada proses pembentukan ikatan emosional bayi kepada ibunya dapat berjalan dengan baik, karena ada beberapa hormon cinta yang berperan . Diantaranya adalah .

Hormon oxytocyn dikeluarkan oleh tubuh ibu ketika menyusui, dan ASi juga mengandung oxytocyn yang masuk ke tubuh bayi ketika proses menyusui, sehingga proses ikatan emosional keduanya akan berjalan sempurna.

Asi memberikan efek kenyamanan pada bayi yang dapat membantu proses pembentukan kelakatan dengan ibunya. Ketika bayi mengisap puting susu ibunya, dan ketika usus bayi menyerap nutrienASI, tubuh bayi akan mengeluarkan hormon cholecystokini yang memberikan efek analgesik dan efek relax pada bayi.

Rasa manis ASi juga dapat menstimulasi produksi opioids (semacam morphin yang dapat mengurangi rasa sakit dan meningkatkan rasa nyaman) pada tubuh bayi. Sehingga bayi lebih gembira dan tidak rewel yang dapat membuat kelekatan ibu-bayi dapat berjalan optimal.

2. Berikan sentuhan dan pijatan lembut

Sentuhan dan pijatan halus ternayata bermanfaat sekali untuk tumbuh kembang anak. Sentuhan dan pijatan juga dapat memicu munculnya hormon cinta. Hormon-hormon cinta tersebut kemudian menghalau hormon stress yang dapat menjadi racun bagi otak. Jadi melalui sentuhan dan belaian kepada anak, walaupun terlihat amat sederhana, mungkin bisa menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan fisik dan otak anak. Menjadikan anak selalu gembira dan akhirnya dapat tercipta hubungan yang lekat anatara ibu dan anak.

3. Tidur bersama

the picture  is taken from bnbc.com
Bayi-bayi yang tidur dengan ibunya memiliki detak jantung, tarikan nafas dan temperatur yang lebih stabil di bandingkan dengan bayi-bayi yang tidur sendiri.artinya bayi-bayi yang di keloni ibunya memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik. Oleh karena itu mengeloni bayi yang sudah menjadi tradisi di indonesia harus tetap dipertahankan. Karena akan membarikan manfaat yang besar pada proses pembentukan kelakatan ibu dan anak.

hal ini telah di buktikan oleh Heron (Heron, 1994) yang mengaitkan kebiasaan tidur bersama ibu -bayi dengan kesehatan anak. Menurut Heron, anak-anak ketika masa bayinya tidur bersama dengan ibunya akan berkembang menjadi pribadi yang percaya diri, tidak mudah khawatir, lebih mandiri, dan lebih berhasil di sekolahnya. Selain itu mereka akan mengalami lebih sedikit masalah kejiwaan.

4. Bangun komunikasi verbal dan non verbal

Selalu luangkan waktu untuk berbicara dengan bayi kita seolah-olah mereka mengerti apa yang kita katakan. Karena ketika kita berbicara, bayi pasti akan memberikan respon dengan pandangan mata, senyuman atau ocehan yang dapat menumbuhkan kelekatan emosi antara ibu dan anak. Atau bisa juga dengan melakukan komunikasi non verbal dengan melakukan kontak mata, ekspresi wajah gembira, sentuhan dll

5. Bangun Quality Time bersama anak

this picture is taken from: buletinkhumaira.blogspot.com
Bekerja seharian di rumah membuat waktu kita berkurang banyak bersama anak. Oleh karena itu sempatkan waktu antara satu hingga dua jam untuk benar-benar bersama anak. Tinggalkan gadget, TV, atau pekerjaan kantor kita untuk sepenuhnya secara jiwa dan raga bersama anak. Pastikan kita tidak hanya sekedar menemani mereka bermain tapi juga “ikut bermain” (menjadi partner anak dalam bermain).

Hal ini sejalan dengan perkataan Prof. Marian Zitlin dari Tufts University, Massachusettes, USA

“Sebetulnya amat mudah untuk menciptakan masayarakat yang damai dan sejahtara, cukup semudah menganjurkan paa ibu untuk memberikan ASI dengan cara yang benar, menyuruh mereka untuk sering memeluk, mencium, dan mengelus bayinya, serta menghimbau mereka untuk kerapmelakukan kontak mata dengan bayinya sambil tersenyum” (Ratna Megawangi, 2014)

Dear parents,….

Kelekatan merupakan kebutuhan bayi yang harus diprioritaskan. Kelekatan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kepribadian jiwa yang sehat yang akan menjadi modal utama bagi bayi kita di masa depan mereka dalam membangun relasi dan kelakatannya saat dia remaja hingga usia dewasa. Oleh sebab itu, apapun alasanya, kebutuhan kelekatan haruslah tetap terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

Megawangi, Ratna.2014.”kelekatan ibu-anak kunci membangun bangsa”. Jakarta: Indonesian Heritage Foundation.

Bosmans, Guy.2013.Young adolescence confidence in maternal support: intentional bias moderate the likn between attachment-related expectations and behavioral problems. New York: Springer Science and bussiness media.

Botero, Maria.2014.How primate mother and infant communicate: Characterizing in mother-infant interactions studies. USA: department of Psicology and Philosophy

Casselman, Robert B. 2014. Young Adult’s recollections of parental rejection and self reported aggression: the mediating roles of insecure adult attachment and emotional dysregulation. New York. Springer Science and bussiness media.

Kinsey, Bicking, Baptiste, kesha. 2014. Effect of misscarriage history on maternal-infant bonding during the first year postpartum in the first baby study; a longitudinal cohort study. USA. Pensylvania Satate University

https://ummushofi.wordpress.com/2010/03/14/air-susu-ibu-asi-dan-keutamaannya-dalam-al-qura n-dan-as-sunnah/

https://ebekunt.wordpress.com/2010/02/28/pentingnya-bonding-dan-attachment-dalam-perkembangan-bayi/

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: